Sunday, February 9, 2020

Danau Toba : Sekeping Surga di Tanah Batak


Saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada Tanah Batak. Pertama menginjakan kaki di Kota Medan tahun 2005, hanya transit untuk melanjutkan kembali perjalanan menggunakan pesawat ke Jakarta, setelah melalui jalan darat dari Banda Aceh. Hanya sekejap di Kota Medan, check in sebentar di sebuah hotel hanya untuk membersihkan badan setelah semalaman berada di mobil. Perjalanan singkat dari hotel menuju Bandara Polonia, melewati bangunan-bangunan tua di Kota Medan, itulah yang membuat saya jatuh cinta. Ternyata Kota Medan jauh dari ekspektasi saya. Medan bukan salah satu wish list the city must visit, saya membayangkan Medan adalah kota industri yang panas. Sangkaan saya salah besar ketika melewati pusat Kota Medan yang di beberapa lokasi tempat masih memelihara pepohonan yang besar sehingga kesan adem masih terasa. 

Tahun 2007  via darat dari Banda Aceh kami melancong ke Danau Toba. Saya terkesima dan kagum dengan kerapihan pepohonan karet di sepanjang jalan Tebing Tinggi – Pematang Siantar. Mohon maklum karena kami orang Pulau Jawa, tepatnya Bandung belum pernah melihat perkebunan karet seperti itu. Dan...untuk pertama kalinya saya melihat Danau Toba. Danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Saking besar nya Danau ini (panjang sekitar 100 Km dan lebar 30 meter ini) hingga meliputi tujuh kabupaten di Sumatera Utara. Kunjungan saat itu, pelancong. Menginap di Parapat, menyeberang ke Samosir  dan berbelanja di Tomok, setelah sebelumnya kami berwisata dulu di Berastagi, ke air terjun Sipiso-piso dan memandang Danau Toba dari kejauhan di Sitongging. 

Sepuluh tahun kemudian,  tahun 2017 saya kembali melihat Danau Toba tapi dari lokasi yang berbeda. Yang pertama, sepulang dari Pakpak menuju Medan, kami singgah sejenak di Simalem. Sebetulnya  untuk menuju Medan, kami ingin lewat Desa Tao Silalahi, tetapi waktu tidak memungkinkan karena takut telat tiba di Kuala Namu (benar saja kami ketinggalan pesawat karena tak diduga macet di Berastagi). Desa Silalahi berada di tepian Danau Toba yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Dairi terkenal indah sekali. Kali ini belum rezeki saya, mudah-mudahan lain kali.



Sebuah resort di Simalem- Kab Dairi yang menghadap ke Danau Toba

Perbukitan di sisi Danau Toba di Simalem

Yang kedua, mungkin ini adalah anugerah pengganti belum sempat ke Tao Silalahi, kami dikasih rezeki mengunjungi salah satu sudut terindah Danau Toba lainnya, yaitu Desa Bakkara, Kecamatan Bakti Raja Kabupaten Humbang Hasundutan. Sebelumnya saya tidak pernah mendengar  atau melihat foto tentang pemandangan Desa Bakkara dari atas jalan yang ternyata sangat indah sekali. Karena tujuan kami mengunjungi air terjun  Binanga janji. Untung mata saya jeli dan meminta driver berhenti untuk kami mengabadikan keindahannya. Heaven ! Benar-benar indah. Selanjutnya menuju air terjun janji, disini baru pertama kalinya saya menginjakan kaki di perdesaan yang benar-benar berada di pinggiran Danau Toba. Mata ini disuguhi pemandangan yang baru seumur-umur saya lihat, gereja di pinggir danau yang tampak syahdu, serta kuningnya sawah di pinggir danau dengan  latar belakang perbukitan, yang terkadang diantara sawah itu terselip  satu  dua lokasi pekuburan. Kami juga sempat mengunjungi  istana tempat kelahiran Sisingamangaraja XII. 


Pemandangan Desa Bakkara - Humbang Hasundutan
Sawah yang sedang menguning terhampar di pinggir Danau Toba




Pemandangan di Sebuah Desa Pinggiran Danau Toba di Kec Bakti Raja

 

Air Terjun Binanga Janji - Bakti Raja
Yang ketiga, sisi Danau Toba dari Tele – Pangururan Kabupaten Samosir. Ini juga menjadi kunjungan yang tidak direncanakan. Ceritanya selepas perjalanan dinas dari Pakpak, sengaja kami pilih Bandara Silangit untuk menuju Jakarta. Pagi sekali kami dari Kota Salak, dan masih sekitar jam 9 sudah tiba di Tele, perkiraan tiba di Bandara Silangit sekitar 1 jam kemudian, padahal pesawat kami terbang sore jam 3.30. Waktu masih lama, dan kami memutuskan untuk turun sejenak ke Pangururan. Sayang nya cuaca saat itu mendung, jadi pencahayaan kurang afdol untuk motret. Walaupun demikian, tetap saja kami disuguhi pemadangan yang masya Allah indahnya. Danau yang dikelilingi bukit, air terjun di sela-sela perbukitan. Oh iya, di Tele ini  di jalan arah menuju Sidikalang, saya menemukan suatu ke keunikan. Penjual ombus-ombus yang menutupi dandangnya menggunakan selimut. Ombus-ombus sendiri adalah makanan khas penduduk Danau Toba (yang konon berasal dari Siborong-borong- Tapanuli Utara) yang berbahan dasar tepung beras yang diisi gula merah dan dibungkus daun. Ombus-ombus itu artinya tiup-tiup karena disajikan pada saat panas baru keluar dari Dandang. Udara di sekitar Tele sangat dingin, sehingga untuk  menjaga agar ombus-ombus tetap hangat, diselimutilah dandang itu. Cukup unik. 




Pemandangan di Sekitar Tele - Kab Samosir
Yang keempat, saya menikmati keindahan Danau Toba dari Balige, Ibukota Kabupaten Toba Samosir. Lokasi yang pertama yaitu di Bukit Tarrabunga, lokasi yang terkenal sebagai spot foto yang indah dan menjadi salah satu lokasi syuting film Toba Dreams. Lokasi berikutnya dari Museum TB Silalahi. Untuk lokasi ini sebelumnya saya pernah melihat foto seorang teman yang cukup indah. gereja di pinggir Danau Toba.n Ini target lokasi yang harus saya potret. Saya niat bangun pagi untuk mengejar lokasi ini, yang letaknya sekitar 30 menit dari tempat saya menginap di hotel terbaik di Kota Balige. Di Balige ini pula pertama kalinya saya merasakan sambal andaliman. Andaliman sendiri adalah rempah khas batak. Rasanya tidak terlalu pedas, sedikit kecut-kecut seperti buah limau dan sangat wangi. Kuliner lainnnya yang sempat saya icip adalah Mie Gomak. Mie khas  Toba ini dijual di Pasar Balige dengan harga hanya 7.000 rupiah saja per mangkok. Karena memang porsinya kecil, dan rasanya enak sekali, saya sampai minta tambah satu porsi lagi. Mie gomak ini tersedia dalam bentuk mie rebus dan mie goreng. Satu lagi makanan yang saya temui di Balige adalah Lapet. Tidak beda dengan ombus-ombus dengan berbahan dasar tepung beras,kelapa dan gula aren hanya penyajiannya saja yang berbeda. Ombus-ombus dibentuk segitiga seperti piramid, sedangkan lapet segiempat. Yang menarik  yang saya temui di Pasar Balige, lapet dibentuk menggunakan kepalan tangan inang (ibu : bahasa batak) penjualnya. 


Bukit Tarrabunga - Balige


Danau Toba dari belakang Museum TB Silalahi

Salah satu sudut di Musem TB Silalahi - Balige yang berada di pinggir Danau Toba
Terkait dengan Danau Toba lainnya adalah kopi. Di perbukitan yang mengelilingi Danau Toba, di ketinggian diatas 700 Mdpl, masyarakat menanam kopi arabika dan menjadikannya sebagai komoditas unggulan. Kopi yang berasal dari Sumatera Utara, termasuk salah satu kopi arabika terbaik di dunia, dengan karakternya yang bold, earthy dan rasa asam yang tipis.   Saya sempat mengunjungi beberapa desa penghasil kopi arabika di sekitar Badan Otorita Danau Toba (BODT) yang berpotensi untuk menjadi wisata kuliner pendukung wisata Kawasan Wisata Super Prioritas Danau Toba. Selain mengunjungi perkebunan kopi  yang terhampar luas, kami juga melihat proses pengolahan kopi oleh masyarakat yang  masih dilakukan sangat tradisional, yaitu di sangrai. Setelah melihat proses itu, langsung di tempat saya seduh kopinya sendiri. Dalam rangka edukasi kepada masyarakat dengan membandingkan rasa dengan kopi  yang diolah secara baik dan benar, kami sengaja membeli biji kopi dari salah satu gerai kopi yang terkenal di seluruh dunia, menyeduh dan mencicipi bersama-sama dan membandingkan dengan kopi yang mereka olah sendiri. Gerai kopi terkenal itu, menyediakan salah satu kopi dengan label Kopi Sumatera. Kopi Sumatera ini, selain dari Aceh  juga  berasal dari Sumatera Utara.   

Di Kota Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara,  terdapat perusahaan eksportir yang memasok langsung ke gerai kopi terkenal tersebut. Kopi Sibisa yang berasal dari Ajibata yang saya ceritakan diatas, sebagian besar  hasilnya dijual ke perusahaan ini. Saya sempat berkunjung ke gudang eksportir tersebut, melihat proses pengolahan pasca panen lebih lanjut sebelum dikirim ke pabrik di Brastagi untuk dilakukan grading dan packaging, yang selanjutnya di ekspor ke Amerika sebagai tempat global perusahaan kopi yang terkenal itu. 

Penjelasan tentang Kopi Sumatera di Kantor PT SSC

Solar Dom untuk menjemur kopi agar kadar air > 20%
Kopi arabika lainnya yang terkenal yang berasal dari Toba adalah kopi lintong. Lintong sendiri merupakan sebuah nama kecamatan,  Lintong Nihuta di  Kabupaten Humbang Hasundutan. Disini saya sempat mengunjungi sebuah shelter kopi milik masyarakat, yaitu semacam gudang kopi yang dilengkapi dengan solar dom untuk menjemur kopinya. Kopi lintong juga termasuk kopi yang dijual ke pemasok kopi diatas. 

Gudang kopi di Lintong Nihuta


Monday, February 3, 2020

Pakpak Bharat : Negeri Indah di tengah hutan Bukit Barisan Pulau Sumatera


Ini cerita perjalanan saya tahun 2017. Jadi mohon maaf barangkali ada foto/cerita yang tidak up to date. Mendapat tugas di wilayah ini, termasuk salah satu yang berkesan. Walaupun kondisi akomodasi sangat terbatas, dan lokasi nya juga cukup jauh untuk dijangkau, tetapi suasana kota nya justru bikin kangen. Kota nya sangat toleran menurut saya. Sekitar jam 05.00 lebih terdengar sayup-sayup suara adzan Shubuh, kemudian disusul bunyi lonceng gereja pada pukul 06.00. Saya juga sempat merasakan suasana syahdu dan meriahnya hari minggu disini. Suasana nya seperti lebaran, pagi hari sekitar jam 08.00, warga berpakaian rapih  berjalan kaki ke gereja terdekat. Tidak sulit juga mencari makanan disini, warung-warung berlabel tulisan Bismillah itu artinya halal untuk kaum muslim, dan berlabel tulisan shalom artinya non halal untuk muslim. Jenis makanan yang tersedia  banyak jenisnya antara lain makanan khas tapanuli (seperti ikan arsik, mie gomak), makanan khas aceh (mie aceh), lontong sayur, masakan padang. Disini saya menemukan suatu rumah makan yang menyajikan ikan tawar panggang yang dimasak menggunakan labu dan bersantan yang belum pernah saya makan sebelumnya. Lupa namanya apa. 

Perjalanan yang sebetulnya duty trip ini kami lakukan bukan hanya sekedar perjalanan dinas, berawal dari ‘biusan’ tempat nya yang membuat kami betah, akhirnya kami mencoba resapi wilayah tidak hanya dari fisik semata, tetapi budaya nya juga. Sampai saya pernah melemparkan  joke ke salah satu pejabat disana, karena selain saya, ada satu rekan yang sangat antusias dengan budaya Pakpak, Albin nama teman saya itu (foto-foto drone dalam blog ini adalah hasil karya nya) “Pak Berutu, boleh lah kasih Albin marga..” Tapi ternyata berbeda dengan suku  Batak, tidak ada istilah pemberian marga di dalam suku Pakpak. Selain kenangan yang saya dapatkan, saya juga mendapat kenang-kenangan kain oles (semacam kain ulos-nya suku Batak) dari  kepala desa Silimakuta bermarga Sinamo. Saya juga mendapat Ulos, dari istri bapak Kades tersebut, yang ternyata seorang boru. 

Cerita perjalanan kami dimulai dari Bandara Kuala Namu di Kabupaten Deli Serdang. Setelah makan siang di sebuah rumah makan dekat bandara, sekitar jam 3 siang kami meluncur menuju Kabupaten Pakpak Bharat melalui Kabupaten Karo. Jarak yang akan ditempuh sekitar ±220 Km atau sekitar 6 – 7 Jam. Sekitar jam 5 lebih, kami baru tiba di Kabanjahe, Ibukota Kabupaten Karo, singgah sebentar ke toilet serta membeli kopi khas Karo untuk bekal di Pakpak.
Menjelang magrib, kami tiba di Merek, daerah yang menyediakan banyak tempat peristirahatan (semacam rest area). Kami memutuskan untuk makan malam disini, di sebuah rumah makan khas Aceh. Kurang lebih satu jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi, kabupaten induk sebelum Pakpak Bharat terbentuk pada tahun 2003. Saat itu kondisi cuaca hujan , sehingga perjalanan harus hati-hati, karena jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan jurang di sisi kiri. Selain itu, lebar jalan hanya sekitar 6 meter. Perjalanan kami terhenti sejenak, karena ada longsor sehingga diterapkan rekayasa lalu lintas buka tutup. 

Sekitar jam 10 malam kami tiba di Sidikalang, beberapa teman kami di drop sini, sedangkan saya dan beberapa orang lainnya melanjutkan perjalanan ke Salak – ibukota Pakpak Bharat. Jarak Sidikalang – Salak sekitar 54 Km dengan waktu tempuh ±1,5 Jam. Tidak berbeda jauh dengan kondisi jalan Merek – Sidikalang, jalan menuju Salak berkelok-kelok dan tidak seluruh nya mulus karena diberapa titik ditemukan kondisi jalan rusak walaupun masih termasuk kategori ringan. Seperti biasa, karena memasuki suatu tempat yang baru saya kunjungi, sepanjang jalan Sidikalang – Salak saya terjaga. Sekitar 30 menit berikutnya, mulai lah masuk ke wilayah administrasi Kabupaten Pakpak Bharat. Karena sudah menjelang tengah malam, jalanan sepi yang terlihat hanya lalu lalang beberapa ekor anjing. Anjing kampung yang lalu lalang di jalanan tersebut, berbeda dengan anjing kebanyakan. Bulu nya tebal, tidak heran karena wilayah Pakpak ini merupakan daerah dengan cuaca yang dingin.
Sekitar jam 12 kami tiba di Kota Salak dan langsung menuju suatu penginapan yang sangat sederhana di pusat kota. Tidak ada pilihan lain, karena hanya penginapan ini yang masih tersedia kamar. Keesok harinya, saya dibangunkan oleh suara adzan subuh , dan yang kemudian terdengar suara ngok...ngok.. 😅😅 Tergerak saya membuka jendela, melongok ke bawah...eh kok kuburan. Kuburan keluarga nampaknya karena hanya terdiri dari beberapa nisan  dan suara ngok..ngok itu berasal dari kandang babi di dekat kuburan itu. 
Jalan Provinsi di Pakpak Bharat : Sukarame - Salak dan Simpang Jambu - Sigalingging

Setelah sarapan dengan menu yang cukup lumayan (diluar ekspektasi karena dipikir hanya akan dikasih satu bungkus roti dan secangkir teh manis) ada nasi goreng, telor mata sapi , kerupuk, timun dan semangka, selanjutnya kami menuju Sindeka, pusat pemerintahan Kabupaten Pakpak Bharat.
Keluar dari penginapan, barulah terbuka mata kami tentang gambaran nyata Kota Salak, sebuah ibukota kabupaten dengan rasa ibukota kecamatan (tapi jangan berkecil hati penduduk Pakpak, kondisi tidak jauh dengan Sofifi yang malah beban nya lebih berat, ibukota provinsi dengan rasa ibukota kecamatan). Tetapi kondisi berbeda akan kita rasakan di kompleks pemerintahan. Bangunan perkantorannya sangat megah. Berada di lokasi ini yang berada lebih tinggi dari Kota Salak, kita akan disuguhi pemandangan alam yang cukup indah. 
 
Sindeka - Pusat Perkantoran Kabupaten Pakpak Bharat

Kompleks Perkantoran dengan latar belakang Perbukitan Bukit Barisan

  Ya, Kabupaten Pakpak Bharat ini berada di gugusan Bukit Barisan Pulau Sumatera, Kota di tengah hutan, 80% wilayah nya masih berupa hutan, dan 46% dari  kawasan hutan tersebut berstatus hutan lindung,  berada di ketinggian 700 – 1800 mdpl,  berhawa sangat sejuk dan pagi hari selalu berkabut. 

Kota Kecil di Tengah Hutan
 Penduduk Kabupaten Pakpak Bharat sekitar 50.000 jiwa dengan tingkat kepadatan hanya 37 jiwa/km2. Sehingga tidak heran, Salak sebagai ibukota nya sangat sepi, jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan kota. Beberapa permukiman dalam satu adminstrasi desa yang berhasil kami foto baik melalui drone atau dari camera yang diambil dari ketinggian, jumlah rumahnya dapat dihitung. 




Permukiman perdesaan yang umum nya mengelompok  dan linier

Generasi milineal berfoto dengan latar belakang  permukiman perdesaan

 Sepanjang tahun 2017, tiga kali saya mengunjungi Pakpak Bharat, dengan durasi 3 – 5 hari, lumayan ter-eksplor wilayah ini, yang menyimpan potensi wisata  alam luar biasa indah dan wisata sejarah dan  budaya yang unik. Potensi wisata sejarah yaitu terdapat benteng pertahananan terakhir Sisingamangaraja XII, raja Batak dan pahlawan nasional di Desa Traju Kecamatan Siempat Rube.
Peninggalan lainnya adalah Mejan, yang termasuk peninggalan purbakala. Mejan ini berupa patung-patung yang diukir dari batu. Patung-patung ini berbentuk orang mengendarai binatang seperti  gajah, kuda atau harimau. Mejan adalah suatu simbol kebanggaan kebanggaan dan kemashyuran bagi masyarakat Pakpak, Selain mengandung nilai budaya yang tinggi, mejan ini juga merupakan lambang kebesaran marga Pakpak atau masyarakat Pakpak. Berdasarkan penuturan beberapa sumber, keberadaan Mejan juga mengandung makna yang sifatnya mistis. Mejan tersebar hampir di seluruh kecamatan di Pakpak Bharat yang terdiri dari 8 kecamatan. 

 
Mejan - Peninggalan purbakala sebagai lambang kebesaran marga dan bernilai mistis


 Masyarakat Pakpak, seperti halnya masyarakat di tanah batak lainnya, juga memiliki nama keluarga atau marga. Penamaan marga suku Pakpak ini mungkin jarang sekali kita dengar seperti halnya suku batak. Nama marga suku Pakpak Bharat antara lain Berutu, Padang, Sinamo, Cibro, Solin, Baoangmanalu, Lingga, Tumangger dll. Penyebaran suku Pakpak berdasarkan komunitas nya dibagi menjadi 5 wilayah atau istilah nya Suak, yaitu :
·         Simsim, daerah Kabupaten Pakpak Bharat;
·         Keppas, daerah Kabupaten Dairi;
·         Pegagan, daerah Kabupaten Dairi, khusus kecamatan Sumbul;
·    Kelasen, daerah Tapanuli Utara, khusus kecamatan Parlilitan dan Kabupaten Tapanuli Tengah di kecamatan Manduamas; dan
·         Boang, daerah Aceh Singkil.

Untuk wisata alam, wilayah Pakpak Bharat menyajikan wisata panorama alam serta air terjun. Bentang alam yang berada di perbukitan menyajikan pemandangan yang sangat indah. Salah satu pemandangan indah yang dapat dinikmati dengan aksesibilitas yang sangat mudah dari Kota Salak yaitu di Sindeka (kompleks perkantoran). Selain perbukitan, persawahan yang ada di Kecamatan Siempat Rube menurut saya tidak kalah indah dengan yang ada di ubud. Persawahan ini terletak di jalan Provinsi Simpang Jambu – Kutajungak – Sigalingging Kab Dairi.
 
 
Hamparan sawah di Kecamatan Siempat Rube
 
Wisata air terjun, merupakan salah satu destinasi wisata yang menjadi andalan Kabupaten Pakpak Bharat. Tidak semua berhasil kami kunjungi, karena keterbatasan akses. Air terjun yang sempat kami kunjungi antara lain
Air Terjun Lae Mbilulue atau Sampuren Mbilulu yang terletak di Desa Prongil Kecamatan Tinada. Dari jalan provinsi Sidikalang – Salak jaraknya sekitar 4 Km melalui jalan Tinada – Prongil. Kemudian kendaraan roda empat/roda dua berhenti di lapangan parkir yang sudah tersedia cukup luas, dilanjutkan dengan berjalan kaki di jalan setapak sekitar 500 Meter menuju lokasi air terjun.Di lokasi air terjun ini  kalau beruntung kita akan melihat pantulan warna seperti pelangi. Lokasi wisata ini sudah dilengkapi dengan tempat duduk tangga dan jembatan penghubung sehingga memudahkan pengunjung untuk ber foto. 
 
Fasilitas tangga menuju air terjun Lae Mbilulu

Lae Mbilulu sudah menjadi destinasi wisata populer Pakpak Bharat
Beruntung Berhasil Melihat Pelangi
 



Air Terjun  Lae Una atau Sampuren Lae Una yang terletak di Desa Kecupak 1 Kecamatan Pergetteng-Getteng Sungkut (PGGS). Air terjun ini berada di sebelah barat Kota Salak berjarak sekitar 5 Km atau 10 menit. Debit air terjun ini cukup besar dan bermuara ke Sungai Lae Ordi. Pada saat kami kesana, belum ada fasilitas penunjang apapun. Air terjun Lae Una sebetulnya dapat dijadikan wisata terintegrasi dengan Mejan Manik yang berada dekat dengan pintu masuk. 
 

Air Terjun Lae Una di Desa Kecupak I


 Air Terjun Lae Sipitu-Pitu yang terletak di Kecamatan Pergetteng Sungkut. Menuju air terjun yang berjarak 12 Km dari Kota Salak,   terlebih dahulu melalui Jalan Provinsi Simpang Jambu – Kutajungak, kemudian masuk ke lokasi dapat melalui Desa Mungkur atau Desa Kutajungak. Dari kedua desa ini, menuju lokasi sekitar 3 Km. Tetapi sayangnya,   air terjun tujuh tingkat belum ada jaringan jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat ataupun roda dua.  

Air Terjun Tujuh Tingkat di Kecamatan Siempat Rube
Air Terjun Lae Sigambit di Desa Mahala Kecamatan Tinada. Jarak nya cukup jauh dari Salak, sekitar 17 Km, dan menuju air terjun ini dapat ditempuh melalui jalan Tinada – Mahala, kemudian masuk ke lokasi melalui Dusun Kuta Delleng. Desa Mahala, selain terdapat air terjun juga terdapat potensi wisata sejarah yaitu goa persembunyian Sisingamangaraja XII serta situs sejarah marga Saolin.

 
Air Terjun Sigambit di Desa Mahala - Kec Tinada
Selain potensi wisata yang diharapkan akan menjadi penggerak ekonomi Kabupaten Pakpak Bharat, potensi ekonomi lainnya  adalah perkebunan Gambir.  Perkebunan Gambir terhampar di bagian barat Kabupaten Pakpak Bharat. Produksi gambir Pakpak Bharat ternasuk no 2 terbesar se-Indonesia setelah Sumatera Barat dan telah menjadi komoditi ekspor.  Pengolahan pasca panen langsung dilakukan di sekitar kebun  harus diolah sebelum 24 jam. Masyarakat mengolah nya dengan alat-alat yang sangat sederhana untuk menghasilkan gambir asalan sebagai bahan baku untuk kosmetik dan obat-obatan. Gambir asalan ini berbahan dasar daun dan ranting yang direbus, sedangkan daun yang kering dapat dijadikan teh. Saat ini, teh gambir telah di packaging oleh BUMD Kabupaten Pakpak Bharat dan menjadi oleh-oleh khas. 
 
Perkebunan Gambir yang tersebar di wilayah barat Pakpak Bharat

Daun dan ranting yang direbus untuk menghasilkan gambir asalan

Alat kempa untuk menghasilkan getah gambir

gambir asalan sebagai bahan baku obat dan kosmetik

 
Sementara itu, wilayah timur Pakpak Bharat potensi wilayahnya adalah pertanian tanaman pangan terutama padi sawah dan perkebunan jeruk. Jeruk Pakpak Bharat terkenal sangat manis, atau dikenal dengan jeruk madu. Jeruk ini kemudian dipasarkan ke  Subulussalam – Aceh  dan Berastagi untuk  kemudian dipasarkan ke wilayah lain di Indonesia. Selain penghasil jeruk, Pakpak juga terkenal penghasil durian, termasuk yang terbesar di Sumatera Utara. Durian khas Pakpak ini banyak ditemui di Jalan Nasional Sidikalang - Subulussalam Kecamatan STTU Jehe yang berbatasan dengan Kota Subulussalam – Aceh. 

Perkebunan Jeruk yang terhampar di bagian timur Pakpak Bharat
Tengkulak yang langsung menjemput jeruk di kebun
  
Menyenangkan bukan perjalanan kami 😍 ?  takkan terlupakan dan ntah kapan lagi saya bisa kembali kesini.