Monday, February 21, 2022

Batam : kota yang terus bergeliat melawan stigma kegagalan, kuliner dan warung kopi

don’t judge book by the cover ! itu mungkin kalimat yang tepat untuk pribadi saya, ketika menilai Pulau Batam.

Pertama kali ke Batam, awal tahun 2017. Excited banget, karena ini pertama kali nya saya mendarat di Provinsi Kepulauan Riau. Wishlist dari dulu, ingin menginjakan kaki di pulau-pulaunya. So Blessed, dari atas pesawat saya bisa melihat pulau-pulau seperti bertebaran gitu.. dan klimaks ketika berhasil me-motret jembatan Barelang, ikon nya Pulau Batam. Setiba nya di Bandara Hang Nadim, jadi kampungan, sibuk mengabadikan diri untuk bukti sudah menginjakan kaki di Batam. Sebetulnya, tujuan utama kami adalah Pulau Karimun, tapi kami memilih untuk menginap dulu 1 malam di Batam.





Tempat-tempat yang terkenal dengan barang-barang impor adalah yang pertama kami kunjungi, seperti Kawasan niaga Nagoya, dan Batam City Square. Kuliner yang sempat kami icip adalah Mie Tarempa, mie khas Pulau Anambas bentuk nya agak lebar dan kotak seperti spagetti, bumbu nya kaya akan rempah, pedas dan toping nya ikan. Sebagai penggemar mie, saya suka. Kuliner lainnya yang  pasti nya seafood, walaupun pada saat itu kami makannya di mal, tetapi yang penting sudah sempat mencicipi seafood dari laut sekitar Batam. Wisata kuliner dan mengunjungi 2 mal itu cukup dalam rentang waktu dari jam 2 siang sampai jam 10 malam. Besok pagi nya, sebetulnya masih ada waktu untuk berkeliling kota karena kapal kami menuju Karimun baru akan berangkat jam 2 siang. Tapi, kemana lagi ya? Karena saya pikir, Nagoya adalah pusat kota-nya. Katanya ada tempat khusus untuk barang-barang elektronik, tapi kami tidak berminat untuk itu. Akhirnya, sebelum check out dari hotel, kami putuskan jalan-jalan ke mal yang lain, yaitu Harbour Bay Mal, yang lokasi nya dekat dengan hotel tempat kami menginap. Tidak banyak yang bisa dilihat, tenant-tenant belum banyak terisi jadi sepi.Cukup singkat memang waktu itu berada di Kota Batam, dan kesan saya, biasa aza, nothing special, hanya sebuah kota sepi yang sedang tumbuh ditandai maraknya pembangunan ruko.

Tapi, kesan itu kemudian berubah menjadi kekaguman, ketika 3 tahun kemudian saya datang kembali ke Kota Batam. Kok rasa nya berbeda banget ya? Kota nya ramai, gedung bertingkat dibangun dimana-mana. Saya kaget ketika pertama kali menuju Batam Centre, oooh ini city centre nya? Kok bagus? Ahaa, waktu kunjungan tahun 2017, memang saya tidak sempat ke Batam Centre, karena saya kurang informasi tentang Batam Centre. Kantor walikota nya disini, kantor BP Batam disini dan masjid raya nya juga disini dan ada Museum Batam Raja Ali Haji. Di seberang museum ada Hotel Harris berlantai 10 , view nya laut lepas dan menghadap ke Singapura. Pada saat saya kesana tahun 2020, mega proyek keluarga besar mantan presiden BJ Habibie yaitu superblok  Meisterstadt atau Pollux Habibie masih dalam tahap pembangunan. Megasuperblock ini konon adalah impian BJ Habibie yang dirancang akan memiliki 11 gedung pencakar langit yang terdiri atas 8 menara apartemen sebanyak 6500 unit, 1 hotel bintang lima, 1 rumah sakit bertaraf internasional, mall raksasa, serta 1 perkantoran dengan rencana ketinggian 100 lantai.  Sampai dengan saat ini, telah dibangun 4 tower yang telah difungsikan untuk apartemen dan Mega Mall Batam. Tower kelima direncanakan akan menjadi gedung pencakar langit dengan ketinggian 350 Meter.

 





Tiga kali di tahun 2020 perjalanan dinas ke Batam, cukup membuat saya mengenal kota ini. Belum seluruh pulau saya explore, tapi lumayan lah sudah membelah pulau ini dari utara ke selatan. Saya sampai pada titik kesimpulan, untuk belajar rancang kota, datang lah ke Kota Batam. Tapi sayang sekali, tidak banyak foto landcape kota yang saya ambil. Karena tekanan pekerjaan yang menguras pikiran dan energi , tidak terlalu banyak waktu untuk memotret diluar pekerjaan.

Kota ini dibangun ketika sebagian besar tutupan lahannya masih berupa hutan, dan sampai saat ini masih terdapat peruntukan untuk hutan lindung di Pulau Batam walaupun keberadaannya semakin terancam oleh pembangunan.


Saya tidak tahu persis berapa proporsi guna lahan untuk ruang terbuka hijau di Kota Batam.  Sepanjang pengamatan saya di beberapa lokasi masih terdapat hutan yang dipertahankan dan menjadi hutan kota serta median jalan yang sekaligus berfungsi sebagai jalur hijau dengan pepehonan yang rimbun. Kondisi ini menarik bagi saya, karena masih bisa menikmati hijaunya pepohonan di tengah kota seperti pada saat keluar dari bandara menuju pusat kota, kita akan melewati hutan-hutan kota. Batam pun sekarang sedang mempercantik diri dengan dibangunnya taman-taman tematik.

Saya juga belum mempelajari masterplan Pulau Batam sejak pertama kali pulau ini dibangun sebagai Otorita Batam pada tahun 1973. Tapi dengan hanya mengelilingi pulau ini, otomatis kita akan paham, pusat kota nya adalah Batam Center, Nagoya adalah pusat kegiatan perdagangan dan jasa, dan kawasan-kawasan industri dibangun di luar pusat kota dan tersedia beberapa pelabuhan. Permukiman dialokasikan tersebar di seluruh kota dilengkapi sarana perdagangan seperti pasar dan ruko. Cukup menonjol dari Kota Batam menurut saya adalah sebagian besar perumahan dibangun oleh developer. Jadi sebaran permukimannya mengelompok, jarang sekali saya melihat permukiman linier.

Karakteristik perumahan nya pun nampak mengikuti kaidah-kaidah rencana tapak. Lapis pertama adalah sarana perdagangan dan jasa, dan perumahan berada di lapis kedua. Apa yang kita pelajari di text book, salah satunya dapat dilihat di Batam Centre. Urutan Bangunan - GSB/Pekarangan - pedestrian/drainase - jalur hijau - badan jalan - median hijau - badan jalan nampak jelas di aplikasikan.

Mengenai jalan, adalah salah satu yang membuat saya suka berada di Kota Batam. Jalan utama nya lebar-lebar dan jarang menemui kondisi jalan yang rusak. Seperti di Jalan Engku Putri - Fly Over Simpang Jam/Madani terdiri dari dua jalur, dengan masing-masing 5 lajur dan dilengkapi jalur hijau dan lampu jalan yang  estetik. Menyenangkan sekali melewati jalan yang lebar dan masih terdapat pepohonan di sekitarnya. Garis Sempadan Bangunan pun nampak lebar, jadi bangunan tidak mepet ke jalan. Beberapa persimpangan jalan nampak sedang dibangun bundaran. Saya tidak tahu, apakah di bundaran yang dibuat taman itu akan dibuat suatu monumen. Beberapa monumen di Kota Batam telah dibangun, tapi menurut saya masih kurang monumental, seperti juga taman-taman tematik yang perlu dibuat lebih menarik dan pedestrian yang lebih nyaman untuk digunakan pejalan kaki.

Hal yang terpenting dalam sebuah kota adalah ketersediaan air. Air baku Kota Batam seluruhnya bersumber dari air permukaan, yaitu waduk. Terdapat 6 waduk yang telah dibangun untuk memenuhi kebutuhan air di Kota Batam. Hampir seluruhnya lokasi waduk ini mudah dijangkau dan membelah Kota Batam. Waduk  yang cukup dekat dengan pusat kota adalah Waduk Ladi, waduk ini sering terlewati dalam perjalanan dari tempat kami menginap di Nagoya/Batam Centre menuju pusat perkantoran Kota Batam sekitar Sekupang. Waduk  lainnya yaitu Waduk Duriangkang, yang merupakan waduk terbesar. Waduk ini pernah saya lewati dalam perjalanan menuju Tanjung Piayu (wilayah yang cukup terkenal sebagai lokasi kuliner seafood). 

Nah, mengenai kuliner, adalah faktor lainnya yang membuat saya menyukai Batam. Kuliner seafood selain di Tanjung Piayu, lokasi lainnya yaitu di Harbour Bay. Kalau datang sore hari, bisa sekalian menikmati sunset. Kedua lokasi tersebut, berada di pinggiran kota.  Kalau di pusat kota, untuk kuliner seafood bisa kita temui di sentra kuliner/food court di Nagoya. Saya sempat mengunjungi dua tempat, Nagoya Food Court dan Windsor Food Court. Food court yang menyediakan berbagai macam masakan dari chinese, padang, melayu dan western ini buka di malam hari.  Menurut saya harga masih masuk akal. Foodcourt tersebut mengusung konsep outdoor, menyediakan live music, dan ada yang menarik perhatian saya, karena jarang ditemui di kota Indonesia lainnya, yaitu mba-mba SPG yang menawarkan minuman bir dengan berkeliling.



Faktor lainnya yang membuat saya semakin menyukai kota ini adalah, karena sebagian besar warga ber-etnis Melayu dan tidak sedikit warga peranakan, mereka memiliki budaya ngopi. Tidak akan kesulitan menemui warung kopi. Sebagian besar memang mengusung konsep‘warungkopi tradisional dengan bungkus modern’, maupun konsep cafe modern.  Ada sebuah warung kopi yang sangat terkenal di Batam, dan itu menjadi lokasi yang pasti kami kunjungi setelah pesawat landing di Kota Batam dan menjelang pesawat takeoff meninggalkan Batam. Favorit saya selain kopi tarik yaitu teh tarik yang rasa nya mendekati teh tarik di negeri sebrang.


Mengenai negeri sebrang , ada warung kopi yang cukup terkenal, yang terletak di sebuah pulau dan jarak nya cukup dekat dengan Singapura. Pulau tersebut bernama Pulau Penawar Rindu,  bagian dari Kecamatan Belakang Padang. Menggunakan perahu kayu, kami menyeberang dari Pelabuhan Sekupang dengan waktu tempuh 15 menit. Sepanjang perjalanan, nampak gedung-gedung tinggi Singapura. Warung kopi yang kami tuju, letak nya cukup dekat dengan Pelabuhan Pulau Penawar Rindu dan berada di pasar. Sebetulnya menu yang disajikan tidak berbeda jauh seperti yang ada di kopi tiam di Batam, ada kopi dan teh tarik, makananya ada Mie Lendir yang merupakan mie khas Kepulauan Riau, mie ayam serta canai.


Kami menyempatkan berjalan ke sekitar Pasar. Cukup menarik, saya merasakan nuansa kawasan perdagangan khas Pecinan. Tidak jauh dari pasar, ada beberapa bangunan tua bergaya Indis, dan salah satunya difungsikan sebagai Kantor Imigrasi. Letak kantor ini lebih tinggi dari bangunan di sekitarnya, dan dari sini kita bisa melihat Singapura, Marina Sand Bay dan Singapura Flyer! Sayang sekali pada saat kami kesana, cuaca kurang mendukung, mendung sehingga tidak mendapatkan foto Singapura dengan langit yang cerah. Tetapi konon kabarnya memang akan sangat sulit bisa melihat Singapura dengan kondisi cerah, selalu nampak diselimuti kabut. Tapi cukup membuat saya senang dan mengobati keinginan untuk berkunjung kembali ke Singapura. Padahal jarak sudah begitu dekat, tetapi karena masih masa Pandemi Co19, pintu perbatasan ditutup.





Itulah sedikit cerita saya membuka lembaran buku Kota Batam (walaupun belum seluruh halaman saya baca), yang membuka mata dan hati saya untuk Kota Batam. Kesan yang cukup mendalam tentang Batam, sehingga terbersit keinginan untuk tinggal dan ber-investasi di Pulau ini. Melalui media sosial, saya terus mengikuti perkembangan Kota Batam, yang terus bergeliat untuk membayar keterlanjuran stigma kota yang gagal. Mudah-mudahan impian Pak Habibie untuk menjadikan Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terwujud. 



Tuesday, April 7, 2020

Vanimo, West Sepik Province, Kota Kecil di Perbatasan Indonesia – Papua Nugini


Tahun 2018 yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi Vanimo, Papua Nugini. Vanimo  merupakan kota kecil yang berbatasan langsung dengan Kota Jayapura, yang merupakan ibukota Provinsi Sandaun/West Sepik.  Saya masuk melalui gerbang Pos Lintas Batas Negara Skouw – Kota Jayapura. Saat itu Jembatan Youtefa masih tahap pembangunan, sehingga waktu tempuh dari pusat Kota Jayapura ke Skouw sekitar 2 jam. Tahun 2019 Jembatan Youtefa sudah dapat digunakan, dan memangkas waktu tempuh sangat signifikan, hanya 45 menit.  Setelah kita melewati imigrasi Indonesia di dalam suatu gedung yang sangat megah, kemudian memasuki taman yang terdapat patung Burung Garuda yang sangat besar, dan tibalah di pintu gerbang perbatasan. Pintu gerbang ini sebetulnya terbuka untuk umum sampai dengan jam 4 sore. Terdapat suatu area, yang secara kedaulatan sudah memasuki wilayah Papua Nugini, tapi kita pelancong boleh masuk. Wutung nama desa tersebut, disitu kita bisa berfoto dengan latar belakang pantai. Tersedia juga pedagang yang menjajakan pisang goreng dan sosis/bratwurst bakar. Sosis/bratwurst harga nya lebih murah di PNG,  mungkin karena akses yang lebih muda ke Australia sebagai negara produsen. Di area ini juga tersedia kendaraan umum menuju Vanimo, kendaraan semacam L300. Tetapi tidak sembarangan bisa menaiki kendaraan ini, karena terlebih dahulu harus melapor ke imigrasi untuk cap paspor dan visa.
Vanimo dari PLBN Skouw dapat ditempuh sekitar 45 menit. Setelah kita melewati pintu perbatasan Wutung, sekitar 5 menit kemudian, berhenti sejenak untuk  diperiksa di pos yang dijaga oleh milter PNG. Menuju Vanimo terlebih dahulu kita akan memasuki suatu kawasan perdesaan di pinggir pantai. Akses jalan tidak terlalu mulus dengan lebar sekitar 6 Meter. Di beberapa titik kita akan melewati jembatan dengan bentang pendek sekitar 50 M dan konstruksi beton, selain tumpukan gelondongan  kayu yang berukuran sangat besar. Melihat gelondongan kayu besar  seperti itu, dan merasa sedih. Karena itu pasti hasil membabat hutan. Kegiatan penebangan kayu memang menjadi sektor unggulan dalam perekonomian Papua Nugini. Vanimo sendiri terdapat beberapa perusahaan pengolahan kayu. 

jenis kendaraan umum Skouw - Vanimo dan kondisi jalan perbatasan PNG


kayu hasil penebangan yang menjadi ekonomi penggerak PNG
 
Sepanjang kiri kanan di kawasan permukiman , akan kita temui beberapa jongko yang menjajakan barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun, minyak, snack kemasan. Barang-barang itu made in Indonesia, yang mereka dapatkan di Pasar Skouw. Pasar Skouw menjadi orientasi bagi masyarakat Vanimo sekitarnya, hampir seluruh barang seperti sembako, sampai alat elektronik di supply dari Indonesia. Permukiman yang berpola linier ini, sebagian besar  berbentuk panggung dengan konstruksi kayu dan beberapa masih beratap rumbia. Pusat kawasan ditandai dengan sebuah lapangan yang luas seperti lapangan sepakbola, sekolah (elementary school disini disebut SD  dan berseragam putih merah ) dan gereja. 

Permukiman linier sepanjang pantai dengan mayoritas rumah panggung

Lapangan terbuka sebagai sarana interaksi masyarakat di perdesaan

Kompleks pemakaman diantara permukiman tepi pantai
 
Setelah kurang lebih 45 menit, tibalah kami di Kota Vanimo. Kota kecil di pinggir pantai yang cantik. Vanimo memiliki ombak yang cukup besar tetapi stabil dan menjadi salah satu tujuan peselancar.Di tengah-tengah kota terdapat suatu tanjung yang berombak tenang. Kontur kota nya landai, kemudian berbukit. Dari atas bukit kita dapat menikmati pemandangan ‘kota bawah’. Permukiman umumnya di bangun di dataran yang lebih tinggi, sebaliknya pusat perdagangan dan pusat pemerintahan berada di dataran yang relatif landai, dekat dengan pantai. Permukiman di pusat Kota Vanimo sedikit berbeda dengan di perdesaan yang sebelumnya kami lewati, jarang sekali ditemui rumah panggung. Sebagian besar rumah sudah permanen, terdapat kelompok permukiman diatas bukit dengan arsitektur bergaya modern. Sementara itu rumah yang berada di ‘kota bawah’, beberapa tampak  beratap seng dan berdinding seng atau kayu. Konsep  neighborhood unit ini perdesaan  mengingatkan saya di Kampung Wallace Bay dan Mentadak, Sebatik – Malaysia, begitupun arsitektur rumah dan perkantoran  di pusat kota, seperti di kedua kampung tersebut. 


Pusat Kota Vanimo diantara dua tanjung

Pantai Kota Vanimo

Suasana di Kota Vanimo

Kantor Pekerjaan Umum -nya Sandaun Province
Sebagai ibukota Provinsi, terdapat lapangan terbang di Vanimo, yang melayani rute ke Kota-kota besar di PNG : Port Moresby, Madang dan Wewak. Hanya terdapat satu runaway, dan mungkin pesawat yang landing disini sejenis twin otter atau ATR. Kalau dibandingkan dengan di Indonesia,suasananya tidak berbeda jauh dengan bandara di Biak .  Tidak jauh dari bandara, kami menemukan suatu tempat yang  masih dalam proses pembangunan. Tampak bangunan rumah-rumah tunggal,  rumah deret berlantai dua, serta bangunan hotel yang arsitekturnya bergaya modern. Terdapat papan di kompleks tersebut dengan tulisan New Town Development . 
 
Bandara Kota Vanimo

Perumahan Baru di Pusat Kota yang masih tahap pembangunan

Lokasi Pembangunan  Kota Baru
 
 Beranjak kembali ke pusat kota, dan inilah bagian yang paling  menarik bagi saya. Pusat perdagangan ! Tidak terlalu banyak bangunan pertokoan, kalau ada waktu luang sebetulnya bisa kita hitung berapa jumlahnya. Ada satu bangunan pusat perbelanjaan, yang disekitarnya dikelilingi oleh pasar tradisional. Pasat tradisional tidak terlalu jauh kondisinya seperti di Indonesia, bangunan kaki-5 , dan sekali lagi kalau ada waktu cukup luang, jumlah jongko nya bisa kita hitung, saya perkiraan masih dibawah 50 unit. Tapi dari jongko-jongko tersebut, sulit sekali ditemui yang berjualan makanan. Malah sepanjang kunjungan kami, hanya satu warung tempat makan yang kami temui. Jangan bayangkan pasar seperti pasar di Indonesia yang mengelompok. Jongko-jongko tersebut berjejer sepanjang jalan di dekat pusat perbelanjaan. 
Pasar Tradisional masih didominasi PKL







Pusat Perbelanjaan Modern
Ada dua pusat perbelanjaan yang kami datangi, super market yang menjual segala ada, dari sembako, sayuran segar  dan frozen foods, pakaian sampai barang elektronik. Hampir 90% barang-barang made in Indonesia, dan beras dari Indonesia adalah yang terbaik disini.  Sisanya, daging sapi dan sosis dari Australia, beberapa frozen food dari China dan Thailand. Produk lokal (PNG)  yang saya temui yaitu telur dan sayur mayur. Kedua supermarket tersebut sangat ramai dan penuh, sempat terpikir oleh saya, konsumtif juga masyarakat Vanimo. Ternyata menurut info, mereka baru saja menerima gaji, sehingga hari itu waktu nya belanja. Masyarakat yang datang berbelanja, tidak hanya masyarakat kota Vanimo, tapi dari lokasi disekitarnya. Hal ini nampak dari angkutan masal yang berseliweran lewat. Angkutan masal tersebut adalah truk, yang dibelakangnya diberi penutup. Sangat jarang sekali saya menemukan mobil, hanya beberapa taxi yang lewat dengan jenis mobil sedan yang sudah tua. Mobil jenis lainnya yang lalu lalang berjenis jeep dan double cabin. Berada di pusat kota Vanimo ini, saya merasa suasana mungkin seperti  masyarakat Indonesia di tahun 60-an yang ditempatkan di suatu ruang modern. Karena, selain melihat moda transportasi masal yang berupa truk, disini kebanyakan masyarakat hanya beralaskan sandal jepit, dan beberapa terlihat tidak beralas kaki sama sekali. Sangat jauh apabila dibandingkan dengan Kota Jayapura, pun dengan Koya Barat, sebuah kelurahan dekat perbatasan Skouw yang berkarakter periurban.




 Barang-barang made in Indonesia yang dominan di Supermarket


Bratwurst dan daging dari Australia
Truk sebagai sarana transportasi masal
 Perjalanan ke Vanimo ini sangat singkat, mungkin kurang lebih hanya 4 jam dengan perjalanan. Jadi, tidak sempat meng-eksplore lebih dalam. Serta foto-foto yang berhasil saya ambil, tidak terlalu bagus hasilnya. Selain pada saat itu cuaca mendung, malah sempat turun hujan. Karena keterbatasan waktu jualah  banyak foto yang saya ambil dari dalam kendaraan.

Sunday, April 5, 2020

Ternate – Tidore – Sofifi : Kota Lama – Kota Baru Pusat Pemerintahan, Peninggalan Sejarah dan Keindahan Alam


Ternate, Tidore dan Halmahera adalah pulau-pulau yang termasuk ke dalam Kepulauan Maluku. Tahun 1999, melalui Undang-undang No 46, pada era pemerintahan Presiden BJ Habibie,  pulau-pulau itu termasuk ke dalam Provinsi Maluku Utara, pemekaran dari Provinsi Maluku. Kota Ternate, didaulat menjadi ibukota Provinsi Maluku Utara sementara, sebelum Sofifi yang berada di Pulau Halmahera siap sebagai ibukota provinsi. Kota Sofifi sendiri merupakan sebuah kecamatan (Oba Utara) yang berada di bawah administrasi Kota Tidore Kepulauan.
Tahun 2010, Presiden Susilo Bambang Yudoyono meresmikan Kota Sofifi sebagai ibukota Provinsi Maluku Utara sekaligus meresmikan pembangunan infrastruktur seperti gedung perkantoran pemerintah provinsi dan instansi vertikal. Lima tahun kemudian, tahun 2015 Presiden Joko Widodo kembali mencanangkan pembangunan Kota Sofifi, sebagai salah satu ‘Kota Baru” di wilayah Indonesia bagian timur.
Kantor Gubernur Provinsi Maluku Utara
Kantor DPRD Provinsi Maluku Utara
Kompleks Perkantoran Pemprov Maluku Utara di Kota Sofifi

Sofifi sebagai ibukota Provinsi memiliki beban sebagai Pusat Kegiatan Wilayah, yang memilki fungsi selain sebagai pusat pemerintahan provinsi, juga sebagai simpul transportasi dan kegiatan perkotaan skala provinsi. Sofifi sendiri merupakan pintu gerbang menuju Pulau Halmahera. Selain terdapat pelabuhan penyebrangan ferri, juga terdapat pelabuhan penyebrangan Speed menuju pulau-pulau di Maluku Utara dan pelabuhan barang kelas pengumpul. Konektivitas antar wilayah di Pulau Halmahera tidak menjadi kendala.Menuju Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, Halmahera Barat dan Halmahera Tengah dapat ditempuh via darat melalui jalan Trans Halmahera. 
Pelabuhan Speed Kota Sofifi
Jalan Nasional Trans Halmahera
Pelabuhan Pengumpul Kota Sofifi
Perkembangan Kota Sofifi, sebetulnya diharapkan dari aktivitas perkantoran dengan bermukimnya para pegawai pemerintah provinsi dan instansi vertikal di Sofifi. Tetapi sebagian besar pegawai masih melakukan komuter dari Ternate. Walaupun demikian, geliat ekonomi yang menjadi salah satu indikator perkembangan kota, perlahan demi perlahan mulai berdenyut. Pasar Galala  dan koridor perdagangan Galala menjadi pusat kegiatan ekonomi. Bangunan ruko modern menyatu dengan bangunan-bangunan yang masih semi permanen. Toko serba ada, elektronik, pakaian menyatu dengan rumah makan yang sebagian besar khas Pulau Jawa. Sudah berdiri satu-dua cafe yang menyediakan minuman dan makanan ala cafe-cafe di kota besar dan menyediakan hiburan seperti live music, karaoke dan bilyar. Jasa-jasa service seperti bengkel, laundry, salon  tidak akan sudah dicari. Begitu pula dengan Bank dan ATM, tidak hanya Bank BRI unit desa  yang menjadi ciri khas bank di wilayah perdesaan, tetapi sudah ada Bank BNI, Mandiri serta Bank Maluku. Lembaga keuangan mikro pun sudah ada, beberapa lising serta pegadaian. Sudah ada embrio kegiatan tersier lainnya yaitu pengemasan Semen Tonase dari pabrik utama di Sulawesi Selatan.

Koridor Perdagangan Galala
Ruko-ruko modern yang sudah banyak bermunculan di Jalan Galala
Salah satu dari 4 Bank BUMN yang ada di Kota  Sofifi
Salah satu restoran di Kota Sofifi
Pengemasan Semen Tonase di selatan Kota Sofifi

Pencanangan kembali Kota Sofifi sebagai Kota Baru memang cukup  berpengaruh, selain nampak dari mulai tumbuhnya kegiatan ekonomi, juga dari jumlah penduduk. Berdasarkan data dari BPS, jumlah penduduk Sofifi tahun 2015 yaitu 15.969 jiwa, dua tahun berikutnya yaitu tahun 2017 meningkat menjadi 17.339 jiwa. Pertumbuhan penduduk dari tahun 2014 – 2017 mencapai 6,56%. Angka ini menjadi suatu keoptimisan bahwa Sofifi perlahan demi perlahan akan tumbuh menjadi sebuah kota sesuai dengan fungsi nya sebagai ibukota provinsi. Pembangunan fasilitas dan infrastruktur terus digenjot untuk dibangun. Fasilitas kesehatan yang telah ada yaitu RSUD dengan fasilitas yang terus ditingkatkan. Fasilitas pendidikan sudah ada sampai pendidikan tinggi yaitu  Kampus Universitas Ibnu Khairun di Kec. Jailolo Selatan, Universitas Bumi Hijrah yang sedang membangun kompleks kampus baru. Selain itu, Pemerintah Provinsi terus berupaya menghidupkan Sofifi dengan mendirikan Sekolah Menengah Atas Khusus Olahraga Maluku Utara, selain telah ada sekolah kejuruan (SMK N 5 Tidore Kepulauan).

RSUD Kota Sofifi
SMA Khusus Olaharga Prov Maluku Utara
Kampus Universitas Ibnu Khairun di yang terletak di  utara Kota Sofifi
 Sementara itu, Pulau Tidore merupakan ibukota dari  Kota Tidore Kepulauan dalam sistem perkotaan nasional memiliki hirarki yang sama dengan Kota Sofifi, sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Menuju Tidore dari Ternate menggunakan speed boat ditempuh hanya kurang dari 10 menit. Pemerintah saat ini sedang mengkaji kelayakan pembangunan jembatan Ternate – Maitara – Tidore dalam rangka meningkatkan konektivitas serta pertumbuhan ekonomi. Struktur perekonomian Kota Kepulauan Tidore masih didominasi oleh sektor primer, yaitu pertanian, kehutanan dan perikanan. Kontribusi sektor ini terhadap produk regional bruto sekitar 26%. Kota Kepulauan Tidore sebetulnya memilki potensi pariwisata yang diharapkan akan dapat menjadi pendongkrak perekonomian wilayah. Pulau-pulau kecil di sekitar Tidore menawarkan wisata bawah laut yang indah untuk menyelam atau sekedar snorkeling.  Pulau Tidore sendiri memilki lokasi wisata sejarah dan budaya. Kesultanan Tidore yang berdasarkan catatan sejarah telah ada sejak Abad ke 10  sampai hari ini masih mempertahankan eksistensinya. Walaupun eksistensinya hanya dalam bentuk struktur KesultananTidore , tidak memiliki hegemoni kekuasaan, seperti layaknya Kesultanan Yogyakarta. Tetapi, pemerintah kota otonom kerap meminta masukan kepada Sultan terkait kebijakan yang akan diambil. Kedaton/Keraton Kesultanan Tidore masih berdiri kokoh dan menjadi lokasi wisata, dimana di dalam istana sultan itu dipamerkan singgasana sultan, bendera kerajaan, baku-baju adat, foto-foto pada era kemerdekaan serta replika kapal-kapal kora-kora yang berhasil membuat Belanda mundur dari tanah Maluku Utara.  

Kedaton Kesultanan Tidore
Singgasana Sultan Tidore

Replika Kapal Kora-kora sebagai armada perang Kesultanan Tidore

Ya Tidore memang sangat lekat dengan perjuangan memperebutkan kemerdekaan. Tidore merupakan salah satu wilayah penghasil rempah-rempah yang menjadi incaran para pedagang dari Eropa pada abad ke 16 – 18. Para pedagang dari Spanyol, Portugis dan Belanda pernah berebut kekuasaan di wilayah ini. Bukti sejarah hadirnya bangsa asing di Tidore yaitu keberadaan benteng pertahanan. Benteng Tahula merupakan benteng yang didirikan Bangsa Spanyol pada tahun 1610. Saat itu terjadi perang Ternate – Portugis melawan Tidore, dan Sultan Tidore meminta bantuan Spanyol untuk mengusir Portugis dari Tidore. Benteng lainnya adalah Benteng Torre yang didirikan Portugis pada tahun 1578.

Benteng Torre
Pemandangan Kota Ternate Dari Benteng Torre
 Pada saat kehadiraan bangsa-bangsa asing tersebut, hegemoni kekuasan Kesultanan Tidore justru sedang dalam  puncaknya. Wilayah cakupan kekuasaan Tidore pada saat itu bahkan hingga mencapai Pulau Papua, pada saat Kesultanan Tidore dipimpin oleh Sultan Nuku yang berkuasa pada akhir abad ke 1797 – 1805. Pada masa tersebut, Sultan Nuku berperang melawan Belanda, dan berhasil mengusir Belanda, tidak hanya dari Pulau Tidore tetapi dari Pulau Ternate. Sultan Nuku meninggal pada tahun 1805. Pemerintah Indonesia memberi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1995. Makam Sultan Nuku terbuka untuk umum sebagai lokasi wisata sejarah dan ziarah.

Makam Sultan Nuku di Tidore
Tidak berbeda jauh dengan Tidore, Kota Ternate pun sangat lekat dengan sejarah. Selain masih terdapat Kesultanan Ternate dan Kedatonnya, Kota ini pun dijuluki Kota Seribu Benteng. Sebagian besar benteng tersebut dibangun oleh Portugis, sebagai bentuk pertahanan terhadap Spanyol yang saat itu menguasai Tidore. Karena maksud tersebut, beberapa benteng menghadap ke arah  Pulau Tidore, seperti Fort de Oranje dan Benteng Kalumata.  Era kekinian, benteng-benteng tersebut selain menjadi lokasi wisata, juga menjadi spot untuk melihat view ke arah Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Dan apabila berhasil berjuang untuk bangun pagi, dapat melihat terbitnya matahari di sela-sela Pulau tersebut.  
 
Pemandangan Pulau Tidore dan Maitara dari Benteng Kalumata

Jika Tidore suasana kota nya senyap, cenderung seperti kota untuk  para pensiunan, Ternate begitu hidup. Kota yang cukup ramai untuk ukuran Indonesia Timur. Mal, supermarket, bioskop serta cafe dan coffee shop  mulai berjamur menghidupkan suasana kota yang sebetulnya berada di wilayah rawan bencana. Berada di Perairan Laut Maluku, Ternate termasuk rawan gempa dan tsunami.  Gunung Gamalama yang berdiri kokoh, adalah gunung api yang masih aktif. Tetapi keterbatasan tersebut, justru memperoleh anugerah lain. Ternate dikelilingi oleh lokasi-lokasi wisata alam yang sangat indah dan sangat mudah sekali untuk dijangkau. Wisata alam minat khusus seperti, diving  yang tidak perlu jauh-jauh, dekat saja di sekitar Kota Ternate. Spot-spot diving tersebar dekat dengan fasilitas umum, seperti di  sekitar Pelabuhan Ahmad Yani, Masjd Raya Al Munawar bahkan di sekitar pusat perbelanjaan. Spot diving yang paling terkenal yaitu di sekitar Pulau Hiri. Menyeberang sekitar 15 menit, berada di sisi Utara Kota Ternate dan langsung berhadapan dengan laut lepas. Untuk yang hanya sekedar snorkeling, selain ke pantai yang terkenal yaitu Sulamadaha, Pantai Jikomalamo sedang menjadi hits saat ini. Pantai Jikomalamo berhadapan langsung  dengan Pulau Hiri. Jadi, kurang lebih sekitar 100 meter, di Pantai ini pun bisa untuk diving. 

Pulau Hiri

Pantai Jikomalamo
Ternate, tidak hanya surga para divers dan under water photograper, tapi bagi kita pelancong-pelancong yang hanya ingin berfoto-foto sambil menikmati keindahan alam. Satu jalur  dengan arah menuju   Pantai Sulamadaha dan Jikomalamo ( arah utara Kota Ternate), terdapat obyek wisata  lain seperti Danau Tolire besar dan Tolire kecil. Danau Tolire kecil sangat dekat dengan laut, sementar Danau Tolire besar berada di kaki gunung Gamalama.  Danau Tolire terbentuk akibat letusan freatik ini, berbentuk seperti loyang. Terdapat cerita legenda bahwa di dasar danau terdapat buaya putih sebagai penunggu. Keindahan lain dari akibat letusan Gunung Gamalama yaitu Batu Angus. Batu Angus, seperti nama nya berwarna hitam dan gosong/hangus, merupakan hasil pembekuan lahar. Gugusan batuan ini membentuk suatu konfigurasi yang unik, serasa di zaman flinstones. Di lokasi ini kita bisa melihat Gunung Gamalama berdiri dengan gagahnya, dan apabila beruntung, akan melihat bentuk gunung utuh tanpa ada awan. Satu yang unik bahwa, batuan hasil letusan ini sampai ke bibir pantai. Sehingga, selain pemandangan gunung, kita juga dapat memandang lautan lepas Selat dan Pulau Halmahera.


Danau Tolire

Pemandangan Gunung Gamalama dari Batu Angus

Pemandangan Halmahera Barat dari Batu Angus
Dari bagian utara Kota Ternate, kita bisa memutari Pulau Ternate menuju arah barat dan selatan kota, melalui jalan lingkar Pulau Ternate. Berada di selatan Kota Ternate, akan ditemui beberapa obyek wisata antara benteng Kastela Pantai Kastela. Benteng Kastela merupakan benteng yang pertama kali dibangun Portugis  di Ternate pada tahun 1522. Benteng Kastela ini menghadap ke arah Laut Maluku, jarak dari bibir pantai kurang lebih 50 meter. Pantai Kastela berbeda karakternya dengan pantai-pantai yang ada di utara, yang memiliki alam bawah laut yang indah. Pantai Kastela berpasir hitam tetapi kita dapat menikmati sunset yang sempurna di pantai ini. Bergerak ke arah timur dari Pantai Kastela menuju Kota Ternate, terdapat suatu spot foto yang luar biasa indah, yaitu pemandangan Danau Ngade dengan latar belakang Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Dan spot foto yang sangat terkenal di Ternate adalah di Desa Fitu, yaitu pemandangan Pulau Tidore dan Maitara persis seperti uang pecahan 1000 rupiah edisi tahun 2000.
Pantai Kastela

Sunset di Pantai Kastela

Danau Ngade
Cerita diatas, adalah perjalanan saya di tahun 2019. Bukan pertama kalinya saya mengunjungi Ternate dan Sofifi, tahun 2013 saya sudah menginjakan kaki di dua kota tersebut. Karena tujuan utama adalah Weda di Kab. Halmahera Tengah, Ternate dan Sofifi  hanya menjadi tempat transit. Tahun 2019 yang lalu, saya mendapat kesempatan dua kali mengunjungi Sofifi dan Ternate.  Ada sekitar  2 – 3 malam saya di Sofifi, mencoba meresapi suasana sebuah ibukota kecamatan yang telah didaulat menjadi kota baru ibukota provinsi. Begitu pun di Ternate, karena bandara ada disini, ada sekitar 2 – 3 malam saya bermalam. Pulau yang memiliki luas sekitar 5.710 Km2 ini, kurang dari setengah hari kita dapat memutarinya. Kulinernya khas dan enak, yang pasti akan sulit ditemui di Jakarta, seperti ikan dari perairan laut dalam yang sangat segar. Salah satu kuliner yang sangat enak menurut saya adalah Gohu. Gohu berbahasan dasar ikan mentah, yang hanya dimasak dengan minyak panas dan diberi bumbu bawang, cabe dan asam. Gohu disajikan dengan kasbi atau singkong rebus dan pisang kepok. Perpaduan yang aneh bagi kita yang tidak terbiasa, tapi sungguh sangat ni’mat. Sedangkan ke Kota Tidore, ini adalah pertama kalinya. Kunjungan hanya sekejap, hanya setengah hari dan itupun diselingi dengan rapat. Tapi saya terkesan dengan Kota Tidore, sunyi sepi sejuk dan bersih.


Suasana Kota Tidore