Wednesday, March 4, 2015

Perjalanan Menuju Kampung Suku Sawai - Weda- Halmahera Tengah



Perjalanan menuju ke perkampungan Sawai di Pulau Halmahera – Maluku Utara,  mungkin menjadi perjalanan ter-ekstrim dalam hidup saya. Padahal perjalanan ini, tidak ada apa-apa-nya dibandingkan dengan cerita para petualang yang menjelajah rimba, mendaki gunung maupun mengarungi samudera. Kampung Sawai bukan merupakan lokasi terisiolir, ada akses menuju kesana. Tetapi kualitas dari akses serta pengabaian keselamatan manusia mungkin yang menjadikan perjalanan ini yang saya sebut cukup ekstrim.

Sebelum menuju Kampung Sawai, terlebih dahulu kita tiba di Bandara Sultan Babullah Ternate setelah menempuh perjalanan 3 jam dari Jakarta. Kemudian, kita harus menyeberangi dahulu Selat Halmahera menuju Ke Kota Sofifi, Ibukota Provinsi Maluku Utara. Perjalanan Ternate – Sofifi dapat menggunakan speed boat dengan waktu tempuh 45 menit atau menggunakan kapal Ferry yang waktu tempuhnya lebih lama. Pemandangan sepanjang penyeberangan menuju sofifi sungguh mengagumkan. Setelah beberapa saat menjauh dari Pelabuhan Ternate, kita akan liat betapa Pulau Ternate begitu indah dengan Gunung Gamalama yang menjulang anggun dan awan yang berada di puncaknya seperti memberikan kesan asap mengepul.  Bukan hanya itu, di sekeliling disuguhi gugusan pulau-pulau kecil yang salah satunya adalah Pulau Tidore.
Tiba di Kota Sofifi, perjalanan kemudian dilanjutkan melalui darat menuju Kota Weda, Ibukota Kabupaten Halmahera Tengah. Perjalanan ditempuh sekitar 3 jam. Jalan yang dilalui cukup mulus. Kebetulan pada saat menuju Kota Weda, waktu hampir menuju sore. Dan disini kami disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan, seperti berada di negeri di atas awan. Ya, hutan tropis yang diselimuti kabut. 

Setelah menembus hutan, tibalah di sebuah kota kecil bernama Weda. Weda merupakan kota kecil di tengah hutan yang berada di perairan halmahera yang tenang. Kami menginap di sebuah penginapan yang dekat dengan Pelabuhan Weda. Hal yang tak akan kami lupakan selama bermalam di Kota Weda yaitu kota ini sangat sering mati lampu, beruntung penginapan menyediakan mesin genset, walaupun hanya mampu untuk penerangan, tidak mampu untuk mengoperasikan mesin air. 

Sudah menjadi hal yang wajib bagi saya apabila mengunjungi suatu daerah adalah mencicipi makanan khas-nya. Tapi seorang teman menganjurkan saya untuk tidak makan pepeda karena saya pasti  tidak akan suka. Setelah dia mendeskrispikan pepeda itu seperti apa, saya memang tidak berniat untuk mencicipi-nya. Karena terletak di pesisir pantai, pasti sajian utama adalah ikan laut yang segar. Menu makan siang dan makan malam, sajian-nya sop ikan bumbu kuning atau ikan bakar atau goreng ditambah sambal dan lalapan. Yang menarik adalah menu sarapan yang mungkin hanya ditemui di wilayah ini. Nasi kuning dengan lauk tumis ikan cakalang, mie goreng dan tumis potongan ubi. Enak sekali...

Setelah mengunjungi kantor pemerintahan dan wawancara dengan tokoh masyarakat di Weda terkait penelitian yang kami lakukan, sore hari kami sempatkan untuk berkeliling sekitar Kota Weda. Tujuan utama adalah Danau Nusliko, yang jaraknya hanya sekitar 1 Km dari pusat Kota Weda. Danau/telaga Nusliko tidak seperti halnya danau pada umumnya yang berair tawar, danau ini airnya asin. Mungkin dikarenakan danau ini langsung terhubung dengan lautan yaitu Selat Weda. 

Telaga Nusliko

Setelah puas berfoto-foto, jalan-jalan sore kami lanjutkan ke Pelabuhan Weda. Letak pelabuhan ini tidak jauh dari pusat keramaian Kota Weda, bahkan dari hotel tempat kami menginap tinggal jalan kaki saja. Pelabuhan Weda termasuk kelas Pelabuhan Perintis. Tiba disana, kami menyaksikan pemandangan yang cukup menyenangkan. Anak-anak sedang bermain di sekitar kapal besar yang sedang bersandar. Mereka tampak begitu bahagia, bergelantungan, terjun dan byuuur berenang. Mereka begitu antusias ketika saya memotret mereka. Sementara itu, nun jauh di tengah laut, nampak suatu pulau yang sangat cantik. Pulau Imam demikian namanya. Pulau itu merupakan tempat peristirahatan terakhir para imam Kota Weda yang telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya Kota Weda. Sore itu merupakan salah satu sore yang terindah di bagian timur Indonesia, walaupun cuaca saat itu mendung sehingga tidak tampak lembayung di atas langit, tapi jernihnya air laut Teluk Weda dan suara riang anak-anak pulau menjadikan sore itu suatu sore yang sangat menyenangkan.

wahana bermain anak-anak pulau


anak-anak gadis pun bermain di atas laut

Foto Kami kakaaa.....


Pulau Imam tempat persemayaman terakhir para Imam Kota Weda

Ke esok harinya perjalanan kami lanjutkan menuju Kampung Sawai. Sawai merupakan salah satu suku yang berada di Halmahera Tengah. Selain merupakan suatu suku, Sawai juga merupakan suatu bahasa. Bahasa Sawai dipergunakan lebih dari 12.000 penduduk di Halmahera Tengah.
Perjalanan menuju Kampung Sawai dari Kota Weda ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam. Beberapa lokasi menarik saya jumpai begitu pula dengan lokasi yang menyeramkan. Yang menarik adalah kami menemukan suatu resort yang cukup exclusive dan memiliki private beach. Sebelumnya saya memang sempat googling penginapan di Weda dan menemukan nama Weda Resort. Berbekal penasaran dan pura-pura ingin menanyakan rate, saya sempat masuk ke kawasan resort ini. Tempat yang  cukup menarik untuk berbulan madu dan menenangkan diri. 

Weda Resort
Pemandangan dari depan Weda Resort
 
Lokasi yang menyeramkan menurut saya adalah medan menuju Kampung Sawai. Kurang dari 10 Km jalan dari Kota Weda masih mulus. Tetapi setelah itu, jalan dalam kondisi rusak. Beberapa Km menjelang memasuki Kampung Sawai, terdapat belokan dan tanjakan dengan jurang menganga di kanan kiri jalan. Haduh, spot jantung kami dibuatnya. Ruas jalan itu bernama “Bukit Melarat”. 
Perkampungan Sawai Lelilef dan Woi Bulan
 
Setelah melewati kampung bernama Kobe, sampailah kami di Kampung Sawai. Kampung Sawai ini terbagi menjadi dua. Sawai Lelilef dan Sawai Woi Bulan. Sawai Lelilef diperuntukan untuk warga yang beragama Nasrani dan Sawai Woi Bulan untuk permukiman muslim. Tidak ada pembeda batas tegas dari kedua desa ini, seperti gapura atau semacamnya. Hanya ada tugu batas desa. Yang menjadi pembeda, terdapat gereja di Sawai Lelilef  dan masjid di Sawai Woi Bulan. Terdapat satu pasar  di dekat kedua batas desa ini. Pasar nya cukup bersih. Menyediakan berbagai jenis sayur mayur, barang-barang pokok dan barang-barang kebutuhan lainnya.
Pasar yang cukup bersih


Penyajian yang cukup menarik

Berada di desa terpencil di Pulau Halmahera, terkejut kami menemukan sebuah penginapan. Penginapan ini sangat kecil dan hanya terdapat 3 kamar. Penginapan ini berada di lantai atas rumah pemiliknya. Untuk keperluan makan, pemilik penginapan menunjukan kami sebuah warung yang akan menyediakan kami makan dengan menu by request. Tentang makan ini, ada satu kekecewaan kami. Berada di pinggir laut, tidak salah kami meminta untuk disediakan ikan. Tetapi pemilik warung mengatakan tidak bisa menjanjikan. Untuk mendapatkan ikan harus membeli ke Weda!  Atau dari pemuda dan anak-anak yang iseng memancing ikan dari pinggiran dermaga. Ternyata sangat sulit mencari ikan karena sudah jarang sekali yang berprofesi sebagai nelayan. Sebagian besar masyarakat di Kampung Sawai kini bekerja di pertambangan nikel yang mengelilingi wilayah ini. 

Memancing iseng untuk mendapatkan ikan

Penginapan tempat kami menginap, tidak jauh dari sebuah dermaga. Malam hari, kami berjalan menuju dermaga itu. Pemandangan takjub kami temukan yang sangat jarang sekali ditemui di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Pemandangan itu adalah ribuan bintang berpedaran di langit Sawai. Tetapi sayang sekali, lensa kamera saya tidak cukup mumpuni untuk merekam anugerah Illahi tersebut. Tentang kamera, ada satu hal yang cukup saya sesali seumur hidup saya. Saya tidak tidak tahu kalau di kampung ini listrik hanya menyala dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi. Saya lupa mengisi batere kamera! Alhasil, kegiatan memotret saya tidak terlalu maksimal.
Setelah dua hari mengelilingi Kampung Sawai dan berbincang-bincang dengan warga dan tokoh masyarakat, dan setelah data dan informasi yang kami kumpulkan dirasa cukup, sebelum menjelang sore kami memutuskan untuk kembali ke Weda. Pada saat berpamitan dengan salah seorang tokoh masyarakat disana, beliau berpesan kepada kami untuk berhati-hati ketika melewati ‘bukit melarat”. 

Perjalanan menuju Weda dari Kampung Sawai memang lebih berat dibandingkan ketika menuju Sawai dari Weda. Ini dikarenakan ketika perjalanan pergi, medan cenderung menurun, dan sebaliknya ketika pulang, medan menanjak. Untuk keseimbangan beban kendaraan, sopir kemudian mengatur tempat duduk kami. Tapi tetap saja tidak cukup mampu ketika harus melewati tanjakan yang sekaligus belokan. Demi keamanan, penumpang semua turun. Berada di dalam mobil dan berjalan kaki saat di tengah jurang hutan belantara, sama saja seram menurut saya. Menurut kabar dari tetua dia Kampung Sawai,  disitu banyak ular. 

Inilah bukit melarat yang menyeramkan itu

Menyempatkan berpose di tengah ekstrim-nya perjalanan
Perjalanan yang cukup ekstrim sepanjang tugas saya di Halmehera Tengah itu, ternyata belum selesai. Pada saat pulang menuju Ternate saya mengalami kejadian yang membuat saya hanya bisa pasrah pada kuasa Tuhan. Menggunakan speed boat bermesin dua kami menuju Ternate dari Sofifi. Saat itu cuaca memang mendung, tetapi air laut relatif tenang. Di tengah laut, tiba-tiba hujan disertai angin yang membuat ombak menjadi tinggi. Boat kami terguncang keras ke kanan dan ke kiri. Di saat nakhoda  berusaha mengendalikan boat agar tetap seimbang, tiba-tiba salah satu mesin mati. Haduh, saya langsung panik, dan mencari pelampung.. dan ternyata kapal ini tidak menyediakan satu pun pelampung.! Haduuh, disitu saya hanya bisa berdoa mohon pertolongan Tuhan dan pasrah. Para awak kapal berusaha menghidupkan mesin yang mati, tetapi tetap tidak bisa. Untung saja hujan mulai reda, dan air laut mulai tenang. Di kejauhan Kota Ternate sudah mulai tampak. Alhamdulillah, akhirnya kami sampai dengan selamat.
Sungguh merupakan suatu pengalaman ter-ekstrim dalam hidup saya. Perjalanan saya ke Halmahera ini, sungguh-sungguh memperlihatkan betapa buruknya sistem transportasi di Indonesia. Transportasi laut begitu mengabaikan keselamatan  penumpang. Kondisi transportasi darat pun demikian, banyak jalan rusak mengancam keselamatan. Maka ni’mat Tuhan manakah yang kamu dustakan, ketika garis tangan ini menjadikan saya sebagai warga Kota Bandung yang aksesibel. Jalan hotmix yang berlubang tidak sebanding dengan puluhan bahkan ratusan kilometer jalan yang rusak di Halmahera sana. Alhamdulillah :D