Thursday, March 25, 2010

Kajian Tata Ruang Kota Bernuansa Spiritual Sebagai Landasan Identitas Kota (Studi Kasus: Kota Yogyakarta) Tugas Akhir Pada PS Perenc.Wilayah&Kota Unisba Tahun 2002

Latar Belakang
Struktur tata ruang Kota Yogyakarta menjadikan kraton sebagai pusat lingkungannya, membujur dari arah selatan (Panggung Krapyak) ke arah utara yang dibatasi oleh Tugu. Sepanjang poros imajiner tersebut, melambangkan berbagai makna dan simbol-simbol perjalanan atau proses kehidupan manusia. Dalam konteks kekinian, poros tata ruang imajiner Tugu-Kraton-Panggung Krapyak  tumbuh dan berkembang sebagai pusat Kota Yogyakarta. Elemen-elemen dasar pembentuk citra lingkungan yang dapat digunakan sebagai alat untuk menilai suatu lingkungan kota dan menjadi obyek perencanaan, dapat dengan mudah diidentifikasikan. Adanya unsur paths sepanjang Jalan DI Panjaitan sampai Jalan P. Mangkubumi, dengan nodes sebagai simpul dari paths yang diwakili oleh Tugu yang berfungsi juga sebagai landmark kota, distrik (kawasan) perdagangan sepanjang Jalan Malioboro sampai Jalan Ahmad Yani, dan Kraton sebagai kawasan permukiman raja yang dibatasi (edges) oleh benteng/gerbang. Elemen–elemen dasar pembentuk lingkungan tersebut mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri yang akan memberikan citra bagi masyarakat luas.
Tata ruang kota yang bernuansa spiritual serta keberagaman kebudayaan yang mewujud dalam bentuk lingkungan binaan itulah yang menjadi ciri khas dan berpotensi menjadi identitas kota  Yogyakarta. Di saat kota-kota lain mulai kritis karena kehilangan jati diri akibat pembangunan yang berorientasi pada pemikiran barat yang lebih mengutamakan modernisasi dan melupakan kebudayaan lokal, Kota Yogyakarta dapat tampil sesuai dengan jati dirinya.  Tetapi kota bersifat dinamis, akan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman
Di balik kekaguman dan kebanggaan terhadap berbagai sederetan predikat dan ciri khas kota, tersimpan suatu kekhawatiran yang nilainya lebih besar daripada kebanggaan itu sendiri. Jalan Malioboro sebagai jalur penghubung Kraton dan Tugu kini adalah sebuah jalan yang sangat sibuk dan sangat padat. Kemacetan, kebisingan dan kesemrawutan  adalah pemandangan rutin di Malioboro. Banyak berdiri bangunan modern yang bergaya culture instant yang menyebabkan ketidak harmonisan dengan lingkungan sekitarnya baik secara fungsional, visual maupun lingkungan. Yang menjadi pertimbangan di kawasan ini adalah uang dan perhitungan laba bersih, bukan nilai-nilai budaya dan spiritual.
Dinamika dan perkembangan kawasan ini secara mikro dan keseluruhan kota secara makro menimbulkan suatu pertanyaan bagaimanakah identitasnya di masa depan? Untuk itu perlu dilakukan suatu penelusuran makna dan pengungkapan  nilai-nilai yang terkandung di sepanjang poros tersebut,  perubahan yang terjadi serta ke arah mana perkembangan kehidupan spiritual kota.

Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan adalah  analisis secara diakronik atau historical reading dan analisis secara sinkronik atau disebut juga tissue analysis.. Iwan Suprijanto (1999:108-110) dalam makalah Fenomenologi Melalui Sinkronik Diakronik mengungkapkan bahwa sinkronik dan diakronik digunakan dalam kaitannya dengan morfologi sebagai metode analisis. Dalam morfologi, aspek diakronik digunakan untuk mengkaji satu aspek yang menjadi bagian dari satu obyek, fenomena atau ide dari waktu ke waktu (menggambarkan perubahan aspek dalam sejarah), sedangkan aspek sinkronik dipakai untuk mengkaji keterkaitan antar aspek metamorfosis yang merupakan hasil sintesa keduanya, yang lebih menggambarkan sejarah individual dari obyek dengan kelengkapan aspeknya.
Metode pembacaan sejarah (historical reading) sama halnya dengan penelitian historik yang menurut Prof. Winarno Surakhmad (1994:142) adalah suatu metode yang mengaplikasikan dan memecahkan permasalahan secara ilmiah dari perspektif historik dengan menggunakan sumber-sumber dokumenter kesejarahan. Karena itulah metode pembacaan sejarah sejalan dengan metode historik dokumenter yang sering digunakan oleh para ahli sejarah.
Metode historik merupakan proses yang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala, peristiwa ataupun gagasan yang timbul di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam usaha untuk memahami:
1.    Kenyataan-kenyataan sejarah kota.
2.    Memahami situasi sekarang.
3.    Meramalkan perkembangan di masa yang akan datang.
    Sumber-sumber data historik dokumenter:
1.    Peninggalan material seperti fosil, bangunan, prasasti dan sebagainya.
2.    Peninggalan tertulis seperti papyrus, daun lontar bertulis, kronik, relief, buku catatan (bucat), arsip negara dan sebagainya.
3.    Peninggalan tak tertulis seperti adat, bahasa, kepercayaan (kosmologi), dan sebagainya.
Metode pembacaan sejarah ini dasarnya terbagi menjadi 2 (dua) pendekatan sebagai berikut:
1.    Pembacaan sejarah secara diakronik, yaitu pemahaman suatu objek sejarah berdasarkan periode-periode perkembangannya, meliputi analisis kecenderungan perubahan yang terjadi pada objek tersebut.
2.    Pembacaan sejarah secara sinkronik, yaitu pemahaman suatu objek sejarah berdasarkan perbandingan dengan objek yang sejenis dan mewakili kesamaan periode waktu. Analisis ini lebih menekankan pada pemahaman karakteristik objek sejarah secara komparatif.

Kesimpulan
1.    Kota Yogyakarta Dibangun Berdasarkan Kekuatan Spiritual
Struktur kota mengaktualisasikan Gunung Merapi diwakili oleh Tugu serta Laut Selatan oleh Panggung Krapyak. Sepanjang poros tersebut mengandung makna perjalanan manusia dari mulai lahir, remaja, dewasa sampai meninggal. Ungkapan simbolisasi perjalanan manusia tersebut diwujudkan dalam bentuk bangunan dan ruang. Perjalanan manusia berawal dari Panggung Krapyak yang menyimbolkan tempat asal roh-roh, kehidupan masa kecil manusia disimbolkan dengan Pohon Asem dan Tanjung di sepanjang jalan yang berarti masih lugu, Gerbang Gading merupakan simbol batas antara masa kanak-kanak ke masa remaja, suasana pernikahan digambarkan dalam Sitiinggil, kelahiran bayi disimbolkan dalam Kemagangan, masa kedewasaan dilambangkan oleh Kadaton, perjalanan dari Kadaton sampai ke Tugu melambangkan orang dewasa yang sedang bersemadi yang berjalan melalui berbagai rintangan dan godaan, dari mulai alun-alun sebagai ruang yang luas, persimpangan jalan setelah alun-alun menandakan tidak boleh membelok,  Pasar Beringharjo yang menandakan segala macam godaan dan kesenangan duniawi, Kepatihan sebagai tempat kedudukan Patih melambangkan godaan kekuasaan. Kemudian tujuan akhir manusia adalah bersatu dengan Tuhannya di Tugu / Pal Putih yang melambangkan tiada kekuasaan selain Tuhan.

2.    Perpaduan Unsur Teknik dan Magis Dalam Pembangunan Kota
Kota Yogyakarta dialiri oleh tiga sungai yaitu,  Sungai Code, Sungai Winongo dan Sungai Gajahwong. Sedangkan pusat Kota Yogyakarta diapit oleh dua sungai, Code dan Winongo. Kraton dibangun berdekatan dengan sumber air bersih, Pacetokan.  Terlihat di sini bahwa tersedianya air sebagai sumber ataupun wahana pembuangan adalah faktor yang penting dalam perencanan kota. Ketiga sungai yang melintasi kota tersebut, juga dapat bersifat pertahanan. Apabila hujan besar datang, air dapat tertampung di sungai-sungai tersebut.  Gunung Merapi di sebelah utara dan Laut Selatan di selatan mengapit Kota Yogyakarta. Selain bermakna spiritual, keberadaan unsur alam tersebut juga berfungsi sebagai pertahanan. dengan dikelilingi oleh kekuatan alam, letak ibukota yang berada di tengah relatif lebih aman dari serangan musuh. Dalam siasat perang, resimen menyerang dari pusat menduduki daerah musuh dan akhirnya kembali ke pusat.
Kekuatan-kekuatan alam yang mengelilingi Kota Yogyakarta memang bermakna teknis  dan spiritual. Kasultanan Yogyakarta yang masih kepanjangan tangan dari Mataram, sampai detik ini pamornya masih kuat. Sengkalan-sengkalan alam pun, sangat jarang terjadi di Kota Yogyakarta. Tidak pernah terdengar Kota Yogyakarta mengalami banjir, lahar dan awan panas Gunung Merapi tidak pernah sampai ke Kota Yogyakarta, karena memang ada bukit kecil yang menghalanginya. Kota Yogyakarta aman dari berbagai sengkalan, karena pembangunanya memadukan antara unsur fisik dan magis.

3.    Poros Imajiner Tugu-Kraton-Panggung Krapyak sebagai Elemen Pembentuk Lingkungan  Kota.
a.    Jalan Malioboro merupakan path utama, menghubungkan Tugu dan Kraton, serta menghubungkan  kawasan perdagangan dengan kawasan permukiman.
b.    Persimpangan antara jalan Mangkubumi, jalan Diponegoro, jalan AM Sangaji dan jalan Kyai Mojo merupakan node utama. Citra tempat ini diperkuat dengan adanya Tugu yang juga bersifat Landmark.
c.    Kawasan kraton yang dikelilingi Benteng Cepuri  (bagian dalam) berfungsi sebagai distrik permukiman keluarga raja. Dalam skala yang lebih besar, Kraton merupakan landmark bagi distrik permukiman dalam jeron beteng. Kampung Kauman juga merupakan distrik, dengan Masjid Agung Yogyakarta sebagai Landmark. Sepanjang jalan Malioboro sampai  jalan A. Yani yang merupakan lokasi perdagangan bersifat distrik perdagangan dan yang  berfungsi sebagai  landmark adalah Pasar Beringharjo.  
d.    Benteng Baluwarti yang mengelilingi Kraton Yogyakarta berfungsi sebagai edge.
e.    Tugu dan Kraton Yogyakarta dapat berfungsi sebagai Landmark dalam skala kota yang lebih besar.

4.    Kota Yogyakarta Dikelilingi  Masjid Pathok Negara yang Bermakna Pertahanan Fisik dan Spiritual
Sisi spiritual lain Kota Yogyakarta adalah keberadaan Masjid pathok negara yang berfungsi sebagai tiang negara pertahanan Kasultanan Yogyakarta, yang secara geografis letaknya berada di empat penjuru mata angin yang berpusat di Kota Yogyakarta. Dilihat dari posisinya yang berkategori mancapat mancalima, penunjukan Masjid Ploso Kuning di Ngaglik Sleman, Masjid Mlangi di Gamping, Masjid Babadan di Banguntapan, Masjid Dongkelan di Kasihan serta Masjid Wonokromo di Plered memang sangat berbau kosmologis. Namun peranan masjid-masjid tersebut sangat besar dalam perkembangan Agama Islam di Daerah Istimewa Yogyakarta pada masa dahulu maupun pada masa kini, karena fungsi masjid-masjid itu sebagai pusat syiar Islam di Wilayah Nagari Agung Kasultanan Yogyakarta.  Keberadaan masjid pathok negara ini juga menunjukan ada keteraturan dalam pola penempatan masjid sebagai benteng spiritual.

5.    Perubahan Kekuatan Spiritual Kota secara Spatial
Kekuatan-kekuatan spiritual lain ternyata muncul di luar sumbu imajiner tersebut. Kekuatan yang muncul itu, sangat berbeda seperti yang terjadi di Kraton Yogyakarta. Spiritual disini berkaitan dengan agama tertentu yang muncul bukan karena disebabkan runtuhnya nilai spiritual poros imajiner Tugu-Kraton-Panggung Krapyak, tetapi mengiri proses pembentukan poros tersebut.  Kampung Kauman yang berdiri bersamaan dengan pembangunan kota adalah perkampungan Islami yang dibangun dengan kekuatan spiritual Islam baik tercermin dari perilaku masyarakatnya maupun pola tata ruangnya.. Permukiman ini menjadi begitu kontras dengan lingkungan di dekatnya, yaitu Kraton Yogyakarta yang penuh dengan nuansa sinkretisme antara  pra Islam dan Islam, sedangkan  Kauman sendiri tampil sebagai Islam yang reformis.
Kekuatan spiritual lain yang mewarnai Kota Yogyakarta adalah Kota Baru dengan nuansa Katolik yang sangat kental, kawasan ini lahir memang terkait dengan usaha misionaris yang dimulai pada awal abad 20. Orang lebih mengenal kawasan ini sebagai permukiman kaum kulit putih. Namun sebenarnya, itu hanya sebagian kecil saja. Yang lebih berperan di kawasan ini adalah usaha pendidikan dan bidang sosial kemasyarakatan yang dilakukan Yayasan Katolik. Pendekatan seperti itu, memang membuat Agama Katolik tumbuh subur di Kota Yogyakarta. Di sekitar kawasan ini dapat dilihat bagaimana Pastor Mangunwidjaya yang juga  seorang arsitek menata permukiman kumuh di bantaran Sungai Code tidak hanya melalui pendekatan fisik tetapi lebih pada sosio politik dan kemasyarakatan. Setelah sukses melahirkan Kota Baru sebagai permukiman yang bernuansa Katolik, spiritual Katolik lahir kembali di Daerah Kentungan dengan dibangunnya Sekolah Seminari Tinggi Santo Paulus, Sekolah Tinggi dan Magister Teologi Sanata Dharma, Gereja Keluarga Kudus dan kompleks makam Pastor di belakang Seminari.

West Sumatera - 2004




Before earth quake attacked west sumatera @ 2009..but..unfortunately I did not take picture of some nice buildings there..

Jiwaku menasehati&menegurku agar menghargai waktu dg mengatakan, ada hari kemarin, ada pula hari esok.Pada saat itu aku menganggap bahwa masa lalu sebagai epos yg hilang&harus kulupakan&masa depan saat yang tak perlu kuraih.Tp skr, aku telah belajar ini: bahwa di kedatangan waktu yg singkat, dg segala yang ada dlm waktu, dpt diraih&menjadi kenyataan (Khalil Gibran)